Wednesday, October 21, 2009

Legenda Grissalha

Pertama kali aku membaca guratan-guratan itu, tidak pernah aku menyangka bahwa di dalamnya terkandung jawaban akan misteri kebudayaan kuno Grissalha. Pada awalnya, para ilmuwan menolak keberadaan suatu dunia sebelum terbentuknya peradaban moderen. Beberapa literatur menyatakan bahwa Grissalha hanya merupakan mitologi belaka. Tanpa bukti sejarah, pernyataan itu tidak dapat dipatahkan. Hingga saat ini. Buku tua rapuh yang ada di hadapanku adalah bukti fisik pertama yang kami temukan terkubur di bawah reruntuhan Puri Glenbold. Tanganku gemetar menyentuh halaman pertama. Mataku mulai mengikuti kisah yang pernah hilang selama ribuan tahun.


Grissalha .... Apakah kau pernah mendengarnya? Nama yang hilang dan muncul kembali dalam legenda. Legenda tentang suatu dunia yang pernah ada sebelum lahirnya sekat-sekat waktu dan batas kenyataan. Suatu dunia di mana sihir menebar kuat pesonanya, tidak terhindarkan, dan akan tetap melekat di dalam jiwamu. Dunia di mana Gerbang Vicerus yang membatasi kegelapan dan cahaya masih terbuka lebar dan meniupkan kekacauan. Dan Nattika adalah satu-satunya harapan. Hutan penuh cahaya dan benteng yang tidak pernah runtuh, bahkan kala matahari berpaling dan pergi.
Sekarang, terlupakan.

Grissalha .... Apakah kau pernah mendengarnya? Nama yang sekarang kutuliskan dengan hati yang terluka. Mataku pernah memandangnya dan terus terpatri dalam ingatanku. Dunia di mana aku dilahirkan dalam cinta. Hidup dalam suka dan duka. Dan aku terus melaju, sampai pada lahirnya sekat-sekat waktu dan batas kenyataan. Lalu, datanglah kehancuran. Bagaimana dunia ini selamat? Hal itu tidak dapat kuungkapkan, karena setelah sekian lama rasa sakit itu masih ada, tidak terkatakan. Aku telah kehilangan ....

Grissalha .... Dengarkanlah sekali lagi! Nama itu akan kutanamkan, bahkan jika harus merobek tirai mimpi. Grissalha, dengan tulisan ini, aku akan menyusun kembali serpihan puing-puing kenangan. Satu demi satu akan kuceritakan, tentang cinta, tentang harapan, dan pengorbanan. Legenda yang telah tertutup batas kenyataan ini akan kupatri dalam setiap hati. Dan akan abadi ....

Namaku Charmanita Arsacci. Biarkan penaku mengalir dan tanganku menghadirkan kembali kisah ini ....

Thursday, September 10, 2009

Sayap

Pernahkah lihat burung terbang dengan satu sayap?

Dan jika sayap itu patah,
Apakah ia akan meratap?

Ataukah ia akan terbang tanpa sayap?

Jika demikian, akankah terjadi keajaiban?

Sejak awal, perlukah ia akan sang sayap?

Di saat sepasang sayap bersatu,
Ia pun pergi mengejar pelangi.

Ujung pelangi yang menyimpan misteri,
Matanya berputar mencari-cari,
Ia pun karam oleh sirnanya mimpi.

Kudengar kepakan kuat sepasang sayap,
Kudengar patahnya hati dan ratap.

Di tengah tetes air mata, ia berucap,
"Aku tidak perlu sepasang sayap."

Akhir

Jika matahari terbenam berwarna merah
Dan langit suram berwarna darah
Lalu mengering dan menghitam
Malam itu hujan air mata

Tanah, bumi pun menganga
Menjerit dalam lidah bisu
Saat sunyi berarti ribuan kata
Dibiarkan tidak terucap
Saat itu pula seluruh cerita
Tergenang dalam senyap

Tidak seorang pun tahu

Satu jiwa akan lepas, terbebas

Tidak seorang pun peduli

Satu tubuh berhenti bernapas

Dan ketika bumi sunyi ...

Segalanya ...

Pergi ...

Rindu

Bentangan anyaman putih tercabik-cabik jarum-jarum air yang menghujam bantalan empuk berlumpur.
Langit tampak gelap.
Aku tidak berani mengikuti ke mana sayap-sayap di hatiku hendak terbang dan tercenung sendiri di dalam sangkar gading.

Sepi.
Senyap.
Pusaran emosi tak terkendali, meluap.
Tetapi tidak terucap.

Bulir-bulir bening bergulir membasahi kedua bukit pipi pucatku.
Bibirku bergetar mengucap doa yang tak dapat keluar.

Sakitnya pisau kerinduan menghantam dadaku, betapa aku ingin pulang.

Wednesday, September 9, 2009

Demam Berdarah

Sekitar dua minggu yang lalu, aku mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Aku jatuh sakit. Kapan dan dari mana penyakit itu datang, aku tidak tahu. Yang pasti pada suatu hari, aku digigit oleh seekor nyamuk, kemudian masuklah aku ke rumah sakit.

Pada awalnya, gejala-gejala penyakit itu sama sekali tidak jelas. Aku hanya merasa sedikit lemas, tidak bersemangat walaupun istirahat dan makan yang cukup. Perasaan kurang bersemangat itu tiba-tiba berubah menjadi apa yang aku pikir hanya flu biasa. Hari Jumat sore, setelah aku pulang ke rumah, kepalaku mulai terasa berat, berdenyut. Badanku pegal dan sendi-sendi seolah kena karat. Aku memaksakan diri untuk makan malam, kemudian minum obat flu sambil berharap esok hari langsung sembuh. Harapan itu sirna.

Aku libur pada hari Sabtu, tidak ada keharusan bangun pagi. Siang hari sekitar jam sebelas, rasanya berat sekali turun dari tempat tidur. Sakit kepala dan mual membuatku semakin malas bergerak dari pembaringan. Tetapi aku harus makan supaya bisa minum obat. Mulut terasa tidak enak, indera pengecapan bekerja kian aneh. Air yang tawar dianggap pahit, sayur yang asin dianggap tawar. Aku tidak berani membayangkan bagaimana makanan yang manis akan berubah.

Hari Minggu, aku kesulitan mengangkat kepala. Kucoba mengukur suhu tubuh dengan termometer bekas adikku. 38 derajat Celsius. Ternyata demam. Pantas saja, aku merasa seperti habis diinjak-injak massa. Pada awal demam, obat penurun panas bekerja dengan baik. Aku mulai bisa beraktivitas dengan suhu 37.5 derajat.

Kondisi tubuhku menurun drastis. Mulai hari Senin itu, aku kehilangan kemampuan untuk melakukan kegiatan manusia hidup. Aku bahkan tidak bisa makan dan minum tanpa mual dan muntah. Pada saat obat penurun panas sudah tidak bereaksi lagi, demamku melonjak hingga ke titik 40 derajat Celsius. Akhirnya, aku pun menyerah.

Pagi itu, hari Kamis, aku dirawat di rumah sakit dengan suhu tubuh 39 derajat dan jumlah trombosit 47,000 per milimeter kubik. Diagnosis: Demam Berdarah Dengue. Jumlah yang sudah cukup miskin itu terus turun hingga mencapai kepala 3. Kata orang-orang, alarm tanda bahaya akan berbunyi pada saat jumlah trombosit jatuh di bawah nilai 25,000. Semoga hal itu tidak terjadi.

Aku sendiri kurang mampu mengingat apa yang terjadi selama aku dirawat. Mungkin keadaan mentalku jadi kurang lurus karena demam tinggi. Menurut cerita keluargaku yang datang menjenguk, aku tampak sadar dan tidak sedang mengigau. Baguslah. Tidak akan ada cerita-cerita aneh beredar ke sana ke mari.

Dirawat di rumah sakit ternyata tidak enak. Walaupun dokter dan suster yang merawat bersikap baik dan ramah, tempat itu bukan rumahku, kamar itu bukan kamarku. Bantal pun baunya berbeda. Sulit tidur, itu sudah pasti. Sensor lidah yang sudah terlanjur error membuat makanan rumah sakit (yang menurut adikku enak) menjadi tidak termakan. Pengalaman yang berat sekali untuk pecinta makanan seperti aku.

Syukurlah, penderitaan itu tidak berlangsung terlalu lama. Setelah lima hari aku dirawat di rumah sakit, jumlah trombositku naik menjadi 80,000. Dokter mengijinkan aku pulang dengan syarat aku istirahat total di rumah. Tidak terkatakan perasaanku saat itu. Yang pasti berbunga-bunga seolah baru menerima surat cinta. Dan yang lebih membahagiakan lagi, infeksi virus yang mengganggu fungsi lidahku telah terbasmi oleh program antivirus terbaik di dunia, sistem pertahanan tubuhku sendiri. Segala macam worm dan trojan yang bercokol pada indera pengecapanku rontok tanpa bekas. Senang sekali bisa makan lagi.

Sekarang ini, aku masih seperti prajurit yang baru pulang dari medan perang. Lelah sudah pasti, juga lega. Aku belum kembali 100%. Berat badanku pun masih di bawah normal. Tetapi aku sudah menang. Separuh perjuangan sudah dilalui. Yang perlu aku lakukan tinggal membangun kembali apa yang kemarin pernah hilang. Kesehatanku yang seutuhnya.


Sunday, July 19, 2009

Catatan Harian Cissy

Derap kaki tikus di langit-langit membangunkan Cissy dari tidur. Matanya mengerjap. Suasana kamar masih gelap. Lampu ruang tengah belum dinyalakan. Cissy menerka-nerka waktu. Mungkin sekitar pukul dua pagi karena ia masih mengantuk sedangkan ia baru tidur tengah malam. Untuk memastikan, Cissy meraba-raba sisi bantal hingga tangannya menyentuh benda keras. Ia menemukan telepon selularnya, alias jam weker serbaguna. Secara buta, jarinya menekan dua tombol untuk membuka kuncian keypad. Lampu dari layar LCD menyala cukup terang sehingga Cissy bisa membaca angka-angka yang bertengger di tepi kiri atas layar.

Pukul 03.30.

Belum saatnya bangun. Alarm akan berbunyi dua setengah jam lagi.

Cissy mengunci kembali keypad telepon selularnya, menyelipkan benda itu ke sisi bantalnya. Ia merebahkan kepala, menutup mata dan terbang kembali ke alam mimpi.

Tuesday, May 19, 2009

Royal Wedding

Dinding batu berwarna gading membingkai sangkar dan rantai. Sang putri duduk di tepi jendela, terbelenggu. Dengan kepala tertunduk dan bibir bergetar, ia menutup mata. Intan berlian bergulir di pipinya saat ia mengatakan, "Tidak." Hatinya ingin bebas, tetapi tubuhnya terpaku pada roda nasib. Ia termangu dalam istana beku.

Kaca bening membatasi jangkauan tangannya, bukan khayalannya. Di balik dinding gading penjaranya, atap hijau dedaunan rimbun membentang. Burung-burung terbang berdua-dua hilir mudik. Sang putri hanya bisa bermimpi akan cinta. Jiwanya ikut mengepakkan sayap-sayap putih, melesat menyeberangi samudera.

Ingin membenamkan kaki dalam pasir dan menghirup angin pantai yang semilir. Ingin menyentuh tebing karang curam dalam cahaya matahari terbenam. Ingin duduk bersanding dengan kekasih sejati di bawah gemerlap bintang benderang.

Saat ia membuka mata, mimpi itu sirna.

Saat ini, ia pengantin raja.

Ia hidup tanpa cinta.

Friday, April 24, 2009

Depresso Express

Di dalam hidupku tidak ada tawa,
Dan aku pun berlalu,
Mencari arti air mata
Bergulir
Sendiri
Di mimpi
Yang sunyi

Di dalam hidupku tidak ada ria,
Dan aku termangu,
Mencari bisik tawa
Menunggu
Waktu
Berlalu
Pilu

Di dalam hidupku menanti
Harapan dan mimpi
Dalam doa
Dalam sunyi
Akankah
Ada
Suka?

Wednesday, March 25, 2009

Catatan Harian Cissy

Laboratorio Di Anatomia


Setelah satu semester di fakultas kedokteran, Cissy mulai merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Sebenarnya Cissy menyadari penyebab dari masalahnya itu, hanya saja ia terlalu pengecut untuk mengakuinya. Jika ingin jujur, permasalahan yang dialami Cissy cukup dirangkum dalam dua patah kata, "Salah Jurusan". Mengapa fakultas kedokteran? Sejak awal, Cissy sudah menyatakan bahwa tidak ada satu pun dalam dirinya yang mencerminkan sifat dasar seorang dokter. Jadi, mengapa ia tidak meneguhkan hati untuk melanjutkan pendidikan di bidang desain grafis? Mudah saja. Cissy tidak ingin gagal di bidang yang disukainya. Lagipula, Mama dan Papa menakut-nakuti Cissy. Kata mereka, masa depan seorang desainer grafis biasanya suram. Entah ide dari mana, alasan itulah yang selalu digunakan Cissy, karena pada dasarnya Cissy memang penyandang predikat penakut kelas berat. Perkembangan mental-emosionalnya tidak lebih daripada seorang anak balita yang cengeng dan manja. Kecerdasan Cissy yang di atas rata-rata memungkinkan dirinya berpura-pura berani dan dewasa. Tidak sedikit orang-orang yang belum mengenalnya memuji sikap cool Cissy dalam menghadapi ujian semester. Nilainya pun mendukung.

Awal semester kedua. Cissy terdiam di depan pintu yang bertuliskan "Ruang Praktikum Anatomi". Bau formalin mulai beraksi menggelitik hidung dan kelenjar air mata para mahasiswa. Cissy harus beberapa kali mengerjap-ngerjap untuk menjernihkan pandangannya. Tidak ada yang bisa melindungi indera penghiduan mereka karena penggunaan masker dilarang oleh para dosen. Sesaat setelah pintu dibuka, Cissy bersyukur memiliki mata yang kurang awas. Ia harus memakai kacamata, perisai pertahanan terhadap uap formalin yang menusuk. Cissy tidak dapat membayangkan betapa menderitanya jika harus masuk ke ruangan tersebut tanpa perlindungan kacamata kebanggaannya.

Tidak ada kejadian yang menghebohkan dalam kegiatan praktikum anatomi pertama Cissy. Hanya saja, tidak satu kali pun Cissy mau memegang potongan-potongan mumi berwarna kecoklatan yang tersebar. Jam kuliah itu terasa seperti mimpi buruk terjebak di rumah hantu tanpa pintu keluar. Selama dua jam penuh penyiksaan itu, Cissy menegaskan keputusannya untuk TIDAK melanjutkan kuliah kedokteran.