Pensilku punya mata.
Ia menari-nari dalam putaran atau segaris lurus dan lengkung tanpa jatuh.
Bagaikan daun kering dalam angin, pensilku menyusuri kertas, lalu terangkat dan tersungkur. Tetapi tidak jatuh.
Ia terus menari-nari tanpa henti.
Pensilku punya rasa.
Sesaat ia menjejak keras nyaris merobek kertasku.
Di waktu lain, melompat-lompat ringan dan terbang melampaui batas alam.
Kadang lembut berbisik dalam nada-nada cinta.
Ia pun bisa berderak marah, menjerit dalam benci dan menangis dalam duka.
Pensilku punya nyawa.
Aku yang memberinya.
Dan segenggam mimpi dan sejumput khayal.
Tetapi pensilku tidak nyata.
Aku tidak mengijinkannya.
Pensilku adalah duniaku, milikku.
Tidak kuserahkan pada nyata yang ku tahu akan mengekangnya.
Akulah yang nyata.
Pensilku tidak.
Sehingga aku bisa lari pada duniaku.
Jauh dari nyata.
Subscribe to:
Posts (Atom)
