Pernahkah lihat burung terbang dengan satu sayap?
Dan jika sayap itu patah,
Apakah ia akan meratap?
Ataukah ia akan terbang tanpa sayap?
Jika demikian, akankah terjadi keajaiban?
Sejak awal, perlukah ia akan sang sayap?
Di saat sepasang sayap bersatu,
Ia pun pergi mengejar pelangi.
Ujung pelangi yang menyimpan misteri,
Matanya berputar mencari-cari,
Ia pun karam oleh sirnanya mimpi.
Kudengar kepakan kuat sepasang sayap,
Kudengar patahnya hati dan ratap.
Di tengah tetes air mata, ia berucap,
"Aku tidak perlu sepasang sayap."
Thursday, September 10, 2009
Akhir
Jika matahari terbenam berwarna merah
Dan langit suram berwarna darah
Lalu mengering dan menghitam
Malam itu hujan air mata
Tanah, bumi pun menganga
Menjerit dalam lidah bisu
Saat sunyi berarti ribuan kata
Dibiarkan tidak terucap
Saat itu pula seluruh cerita
Tergenang dalam senyap
Tidak seorang pun tahu
Satu jiwa akan lepas, terbebas
Tidak seorang pun peduli
Satu tubuh berhenti bernapas
Dan ketika bumi sunyi ...
Segalanya ...
Pergi ...
Dan langit suram berwarna darah
Lalu mengering dan menghitam
Malam itu hujan air mata
Tanah, bumi pun menganga
Menjerit dalam lidah bisu
Saat sunyi berarti ribuan kata
Dibiarkan tidak terucap
Saat itu pula seluruh cerita
Tergenang dalam senyap
Tidak seorang pun tahu
Satu jiwa akan lepas, terbebas
Tidak seorang pun peduli
Satu tubuh berhenti bernapas
Dan ketika bumi sunyi ...
Segalanya ...
Pergi ...
Rindu
Bentangan anyaman putih tercabik-cabik jarum-jarum air yang menghujam bantalan empuk berlumpur.
Langit tampak gelap.
Aku tidak berani mengikuti ke mana sayap-sayap di hatiku hendak terbang dan tercenung sendiri di dalam sangkar gading.
Sepi.
Senyap.
Pusaran emosi tak terkendali, meluap.
Tetapi tidak terucap.
Bulir-bulir bening bergulir membasahi kedua bukit pipi pucatku.
Bibirku bergetar mengucap doa yang tak dapat keluar.
Sakitnya pisau kerinduan menghantam dadaku, betapa aku ingin pulang.
Langit tampak gelap.
Aku tidak berani mengikuti ke mana sayap-sayap di hatiku hendak terbang dan tercenung sendiri di dalam sangkar gading.
Sepi.
Senyap.
Pusaran emosi tak terkendali, meluap.
Tetapi tidak terucap.
Bulir-bulir bening bergulir membasahi kedua bukit pipi pucatku.
Bibirku bergetar mengucap doa yang tak dapat keluar.
Sakitnya pisau kerinduan menghantam dadaku, betapa aku ingin pulang.
Wednesday, September 9, 2009
Demam Berdarah
Sekitar dua minggu yang lalu, aku mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Aku jatuh sakit. Kapan dan dari mana penyakit itu datang, aku tidak tahu. Yang pasti pada suatu hari, aku digigit oleh seekor nyamuk, kemudian masuklah aku ke rumah sakit.
Pada awalnya, gejala-gejala penyakit itu sama sekali tidak jelas. Aku hanya merasa sedikit lemas, tidak bersemangat walaupun istirahat dan makan yang cukup. Perasaan kurang bersemangat itu tiba-tiba berubah menjadi apa yang aku pikir hanya flu biasa. Hari Jumat sore, setelah aku pulang ke rumah, kepalaku mulai terasa berat, berdenyut. Badanku pegal dan sendi-sendi seolah kena karat. Aku memaksakan diri untuk makan malam, kemudian minum obat flu sambil berharap esok hari langsung sembuh. Harapan itu sirna.
Aku libur pada hari Sabtu, tidak ada keharusan bangun pagi. Siang hari sekitar jam sebelas, rasanya berat sekali turun dari tempat tidur. Sakit kepala dan mual membuatku semakin malas bergerak dari pembaringan. Tetapi aku harus makan supaya bisa minum obat. Mulut terasa tidak enak, indera pengecapan bekerja kian aneh. Air yang tawar dianggap pahit, sayur yang asin dianggap tawar. Aku tidak berani membayangkan bagaimana makanan yang manis akan berubah.
Hari Minggu, aku kesulitan mengangkat kepala. Kucoba mengukur suhu tubuh dengan termometer bekas adikku. 38 derajat Celsius. Ternyata demam. Pantas saja, aku merasa seperti habis diinjak-injak massa. Pada awal demam, obat penurun panas bekerja dengan baik. Aku mulai bisa beraktivitas dengan suhu 37.5 derajat.
Kondisi tubuhku menurun drastis. Mulai hari Senin itu, aku kehilangan kemampuan untuk melakukan kegiatan manusia hidup. Aku bahkan tidak bisa makan dan minum tanpa mual dan muntah. Pada saat obat penurun panas sudah tidak bereaksi lagi, demamku melonjak hingga ke titik 40 derajat Celsius. Akhirnya, aku pun menyerah.
Pagi itu, hari Kamis, aku dirawat di rumah sakit dengan suhu tubuh 39 derajat dan jumlah trombosit 47,000 per milimeter kubik. Diagnosis: Demam Berdarah Dengue. Jumlah yang sudah cukup miskin itu terus turun hingga mencapai kepala 3. Kata orang-orang, alarm tanda bahaya akan berbunyi pada saat jumlah trombosit jatuh di bawah nilai 25,000. Semoga hal itu tidak terjadi.
Aku sendiri kurang mampu mengingat apa yang terjadi selama aku dirawat. Mungkin keadaan mentalku jadi kurang lurus karena demam tinggi. Menurut cerita keluargaku yang datang menjenguk, aku tampak sadar dan tidak sedang mengigau. Baguslah. Tidak akan ada cerita-cerita aneh beredar ke sana ke mari.
Dirawat di rumah sakit ternyata tidak enak. Walaupun dokter dan suster yang merawat bersikap baik dan ramah, tempat itu bukan rumahku, kamar itu bukan kamarku. Bantal pun baunya berbeda. Sulit tidur, itu sudah pasti. Sensor lidah yang sudah terlanjur error membuat makanan rumah sakit (yang menurut adikku enak) menjadi tidak termakan. Pengalaman yang berat sekali untuk pecinta makanan seperti aku.
Syukurlah, penderitaan itu tidak berlangsung terlalu lama. Setelah lima hari aku dirawat di rumah sakit, jumlah trombositku naik menjadi 80,000. Dokter mengijinkan aku pulang dengan syarat aku istirahat total di rumah. Tidak terkatakan perasaanku saat itu. Yang pasti berbunga-bunga seolah baru menerima surat cinta. Dan yang lebih membahagiakan lagi, infeksi virus yang mengganggu fungsi lidahku telah terbasmi oleh program antivirus terbaik di dunia, sistem pertahanan tubuhku sendiri. Segala macam worm dan trojan yang bercokol pada indera pengecapanku rontok tanpa bekas. Senang sekali bisa makan lagi.
Sekarang ini, aku masih seperti prajurit yang baru pulang dari medan perang. Lelah sudah pasti, juga lega. Aku belum kembali 100%. Berat badanku pun masih di bawah normal. Tetapi aku sudah menang. Separuh perjuangan sudah dilalui. Yang perlu aku lakukan tinggal membangun kembali apa yang kemarin pernah hilang. Kesehatanku yang seutuhnya.
Pada awalnya, gejala-gejala penyakit itu sama sekali tidak jelas. Aku hanya merasa sedikit lemas, tidak bersemangat walaupun istirahat dan makan yang cukup. Perasaan kurang bersemangat itu tiba-tiba berubah menjadi apa yang aku pikir hanya flu biasa. Hari Jumat sore, setelah aku pulang ke rumah, kepalaku mulai terasa berat, berdenyut. Badanku pegal dan sendi-sendi seolah kena karat. Aku memaksakan diri untuk makan malam, kemudian minum obat flu sambil berharap esok hari langsung sembuh. Harapan itu sirna.
Aku libur pada hari Sabtu, tidak ada keharusan bangun pagi. Siang hari sekitar jam sebelas, rasanya berat sekali turun dari tempat tidur. Sakit kepala dan mual membuatku semakin malas bergerak dari pembaringan. Tetapi aku harus makan supaya bisa minum obat. Mulut terasa tidak enak, indera pengecapan bekerja kian aneh. Air yang tawar dianggap pahit, sayur yang asin dianggap tawar. Aku tidak berani membayangkan bagaimana makanan yang manis akan berubah.
Hari Minggu, aku kesulitan mengangkat kepala. Kucoba mengukur suhu tubuh dengan termometer bekas adikku. 38 derajat Celsius. Ternyata demam. Pantas saja, aku merasa seperti habis diinjak-injak massa. Pada awal demam, obat penurun panas bekerja dengan baik. Aku mulai bisa beraktivitas dengan suhu 37.5 derajat.
Kondisi tubuhku menurun drastis. Mulai hari Senin itu, aku kehilangan kemampuan untuk melakukan kegiatan manusia hidup. Aku bahkan tidak bisa makan dan minum tanpa mual dan muntah. Pada saat obat penurun panas sudah tidak bereaksi lagi, demamku melonjak hingga ke titik 40 derajat Celsius. Akhirnya, aku pun menyerah.
Pagi itu, hari Kamis, aku dirawat di rumah sakit dengan suhu tubuh 39 derajat dan jumlah trombosit 47,000 per milimeter kubik. Diagnosis: Demam Berdarah Dengue. Jumlah yang sudah cukup miskin itu terus turun hingga mencapai kepala 3. Kata orang-orang, alarm tanda bahaya akan berbunyi pada saat jumlah trombosit jatuh di bawah nilai 25,000. Semoga hal itu tidak terjadi.
Aku sendiri kurang mampu mengingat apa yang terjadi selama aku dirawat. Mungkin keadaan mentalku jadi kurang lurus karena demam tinggi. Menurut cerita keluargaku yang datang menjenguk, aku tampak sadar dan tidak sedang mengigau. Baguslah. Tidak akan ada cerita-cerita aneh beredar ke sana ke mari.
Dirawat di rumah sakit ternyata tidak enak. Walaupun dokter dan suster yang merawat bersikap baik dan ramah, tempat itu bukan rumahku, kamar itu bukan kamarku. Bantal pun baunya berbeda. Sulit tidur, itu sudah pasti. Sensor lidah yang sudah terlanjur error membuat makanan rumah sakit (yang menurut adikku enak) menjadi tidak termakan. Pengalaman yang berat sekali untuk pecinta makanan seperti aku.
Syukurlah, penderitaan itu tidak berlangsung terlalu lama. Setelah lima hari aku dirawat di rumah sakit, jumlah trombositku naik menjadi 80,000. Dokter mengijinkan aku pulang dengan syarat aku istirahat total di rumah. Tidak terkatakan perasaanku saat itu. Yang pasti berbunga-bunga seolah baru menerima surat cinta. Dan yang lebih membahagiakan lagi, infeksi virus yang mengganggu fungsi lidahku telah terbasmi oleh program antivirus terbaik di dunia, sistem pertahanan tubuhku sendiri. Segala macam worm dan trojan yang bercokol pada indera pengecapanku rontok tanpa bekas. Senang sekali bisa makan lagi.
Sekarang ini, aku masih seperti prajurit yang baru pulang dari medan perang. Lelah sudah pasti, juga lega. Aku belum kembali 100%. Berat badanku pun masih di bawah normal. Tetapi aku sudah menang. Separuh perjuangan sudah dilalui. Yang perlu aku lakukan tinggal membangun kembali apa yang kemarin pernah hilang. Kesehatanku yang seutuhnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
