Bentangan anyaman putih tercabik-cabik jarum-jarum air yang menghujam bantalan empuk berlumpur.
Langit tampak gelap.
Aku tidak berani mengikuti ke mana sayap-sayap di hatiku hendak terbang dan tercenung sendiri di dalam sangkar gading.
Sepi.
Senyap.
Pusaran emosi tak terkendali, meluap.
Tetapi tidak terucap.
Bulir-bulir bening bergulir membasahi kedua bukit pipi pucatku.
Bibirku bergetar mengucap doa yang tak dapat keluar.
Sakitnya pisau kerinduan menghantam dadaku, betapa aku ingin pulang.
Thursday, September 10, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment