Pensilku punya mata.
Ia menari-nari dalam putaran atau segaris lurus dan lengkung tanpa jatuh.
Bagaikan daun kering dalam angin, pensilku menyusuri kertas, lalu terangkat dan tersungkur. Tetapi tidak jatuh.
Ia terus menari-nari tanpa henti.
Pensilku punya rasa.
Sesaat ia menjejak keras nyaris merobek kertasku.
Di waktu lain, melompat-lompat ringan dan terbang melampaui batas alam.
Kadang lembut berbisik dalam nada-nada cinta.
Ia pun bisa berderak marah, menjerit dalam benci dan menangis dalam duka.
Pensilku punya nyawa.
Aku yang memberinya.
Dan segenggam mimpi dan sejumput khayal.
Tetapi pensilku tidak nyata.
Aku tidak mengijinkannya.
Pensilku adalah duniaku, milikku.
Tidak kuserahkan pada nyata yang ku tahu akan mengekangnya.
Akulah yang nyata.
Pensilku tidak.
Sehingga aku bisa lari pada duniaku.
Jauh dari nyata.
Tuesday, September 23, 2008
Sunday, August 3, 2008
Catatan Harian Cissy
"De Initio Medicinae"
Jika harus berbicara jujur, Cissy tidak ada potongan untuk menjadi seorang dokter. Bahkan tidak terlintas dalam pikiran Cissy cita-cita untuk berprofesi di dunia medis. Tetapi sekarang ia hidup, menghirup udara dalam lingkup sempit semesta terbatas yang disebut fakultas kedokteran. Mengapa kebodohan ini bisa terjadi?
Sekarang Cissy tengah menjalani masa pendidikan di fakultas kedokteran swasta terkenal di Jakarta. Secara spesifik, Cissy menegaskan bahwa universitas pilihannya berkualitas tinggi. Tidak bisa dipungkiri, lulusan universitas yang bersangkutan cukup diminati dalam berbagai bidang pekerjaan, salah satunya adalah bidang kedokteran. Tetapi alasan sebenarnya bukan itu. Dalam hati, Cissy mengaku bahwa ia telah menipu diri sendiri dan orang lain di sekitarnya. Ia tidak bisa secara terbuka menyatakan bahwa pilihannya didasari alasan yang sangat sepele. Ujian masuknya tidak pakai matematika dan fisika. Sungguh hanya itu. Mau menyesal pun sudah terlambat. Ia sudah diterima di universitas tersebut, bahkan sudah menjalani setengah semester tanpa masalah.
Cissy merasa cita-citanya semakin jauh dari genggamannya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pilihan ini harus ia jalani hingga selesai. Lihat bagaimana nantinya saja.
Thursday, July 31, 2008
Klasik atau Klasik?
Apakah yang menjadikan cerita-cerita klasik sebagai klasik? Apakah usia tua ataukah nama besar sang penulis? Atau mungkin tema kisahnya yang melintasi ruang, melintasi waktu?
Tema kisah apa? Cerita cinta remaja yang berakhir tragis cukup sukses untuk "Romeo & Juliet". Tema yang serupa mungkin tidak akan bekerja jika tokoh utamanya sudah dewasa atau seorang cerdas yang berpikiran maju, atau jika setting cerita dipindahkan ke abad 21 - suatu abad di mana ucapan cinta sejati hanya jadi bahan tertawaan belaka.
Bandingkan cerita roman dengan cerita dongeng untuk anak-anak. Roman klasik bagi sebagian orang merupakan kisah konyol yang didewakan, novel murahan yang seharusnya dibuang ke tempat sampah.
Sedangkan dongeng untuk anak-anak, seaneh dan semustahil apa pun temanya, dapat diterima dan dimengerti. Apa yang membedakannya?
Dongeng-dongeng ini telah mengalami perubahan-perubahan menurut berbagai versi. Apakah juga dianggap klasik?
Tema kisah apa? Cerita cinta remaja yang berakhir tragis cukup sukses untuk "Romeo & Juliet". Tema yang serupa mungkin tidak akan bekerja jika tokoh utamanya sudah dewasa atau seorang cerdas yang berpikiran maju, atau jika setting cerita dipindahkan ke abad 21 - suatu abad di mana ucapan cinta sejati hanya jadi bahan tertawaan belaka.
Bandingkan cerita roman dengan cerita dongeng untuk anak-anak. Roman klasik bagi sebagian orang merupakan kisah konyol yang didewakan, novel murahan yang seharusnya dibuang ke tempat sampah.
Sedangkan dongeng untuk anak-anak, seaneh dan semustahil apa pun temanya, dapat diterima dan dimengerti. Apa yang membedakannya?
Dongeng-dongeng ini telah mengalami perubahan-perubahan menurut berbagai versi. Apakah juga dianggap klasik?
Wednesday, June 18, 2008
Irama Mimpi Lagu Hidup
Aku melangkah maju tanpa tahu
apa yang ada di depanku.
Aku pun merasa ragu walau rindu
untuk mencapai yang ku mau.
Sesaat aku tersipu merasa malu,
apakah ragu itu perlu...
Lalu kuteguhkan diri menerjang maju,
menggapai masa depanku.
Setidaknya, itulah khayal sang pemimpi.
Geletar api yang nyata punya tarian berbeda,
terbakar suram dalam bara yang berangsur padam.
Ia merebahkan hatinya yang sudah tua,
mengejar ketenangan yang ia sadar hampa.
Saat memori membaca kembali hidup yang telah lalu,
dan meresapkan dalam jiwa apa yang tiada,
apa yang tidak pernah ia punya.
Sesal diri akan ketakutan yang merajai nasibnya,
sehingga ia selalu meratapi "seandainya".
Dan ia tidak akan pernah tahu.
Pada hari ini dalam sunyi,
ia menutup matanya.
Di antara bibirnya terselip doa,
"Oh Tuhan, seandainya..."
apa yang ada di depanku.
Aku pun merasa ragu walau rindu
untuk mencapai yang ku mau.
Sesaat aku tersipu merasa malu,
apakah ragu itu perlu...
Lalu kuteguhkan diri menerjang maju,
menggapai masa depanku.
Setidaknya, itulah khayal sang pemimpi.
Geletar api yang nyata punya tarian berbeda,
terbakar suram dalam bara yang berangsur padam.
Ia merebahkan hatinya yang sudah tua,
mengejar ketenangan yang ia sadar hampa.
Saat memori membaca kembali hidup yang telah lalu,
dan meresapkan dalam jiwa apa yang tiada,
apa yang tidak pernah ia punya.
Sesal diri akan ketakutan yang merajai nasibnya,
sehingga ia selalu meratapi "seandainya".
Dan ia tidak akan pernah tahu.
Pada hari ini dalam sunyi,
ia menutup matanya.
Di antara bibirnya terselip doa,
"Oh Tuhan, seandainya..."
Thursday, May 22, 2008
Saya, Aku dan Gue
Saya...
Saya berdiri di sudut ruangan dan memandang
sekeliling,
menatapi dinding,
mendengar suara banyak orang berdenging
di telinga
dan saya terpana
tidak bisa bicara, terdiam
dalam kecemasan ketakutan.
Lalu aku...
Aku menguatkan hati, aku maju dan bersuara,
dan bertanya, "Apa yang terjadi?"
Yang tengah sibuk bicara, berhenti,
berbalik menatapku, wajahnya dingin beku.
"Apa maumu?"
Bagaimana seharusnya jawabku?
Apa yang ada dalam pikirku,
sulit diungkap dalam kata, dan aku
masih juga terdiam membisu.
Aku pun merasa malu.
Ingin kembali ke tempat saya terpaku.
Tetapi sesuatu meluap dalam diriku,
membuka mulut, jawabku,
"Hanya ingin tahu..."
Dan akhirnya, gue...
Gue nggak peduli lagi tanggapan dia,
membentak,
"Emangnya dia salah apa," nyaris berteriak.
Gue marah,
masalah kecil dibuat seolah sangat parah,
hanya sms yang lupa diberi nama,
dia memaki yang belum tahu apa-apa.
Gue pernah diperlakukan sama,
jelas gue marah,
gue bertindak.
Hal yang nggak bisa dikerjakan
saya dan aku,
bisa gue lakukan.
Aku...
Setelah masalah mencair, aku berani bicara
mengungkapkan rasa.
Setelah itu, merasa lega.
Saya...
hanya manusia biasa
penuh cemas dan mudah terluka.
Tetapi sesuatu dapat mendorong saya,
keluar dari sembunyi.
Kepada aku...
Kepada gue...
Untuk mendobrak dinding pengaman,
merobek selimut ketakutan...
Agar aku dapat menghimpun keberanian.
Kemudian gue akan melakukan.
Apa yang saya harapkan.
Saya berdiri di sudut ruangan dan memandang
sekeliling,
menatapi dinding,
mendengar suara banyak orang berdenging
di telinga
dan saya terpana
tidak bisa bicara, terdiam
dalam kecemasan ketakutan.
Lalu aku...
Aku menguatkan hati, aku maju dan bersuara,
dan bertanya, "Apa yang terjadi?"
Yang tengah sibuk bicara, berhenti,
berbalik menatapku, wajahnya dingin beku.
"Apa maumu?"
Bagaimana seharusnya jawabku?
Apa yang ada dalam pikirku,
sulit diungkap dalam kata, dan aku
masih juga terdiam membisu.
Aku pun merasa malu.
Ingin kembali ke tempat saya terpaku.
Tetapi sesuatu meluap dalam diriku,
membuka mulut, jawabku,
"Hanya ingin tahu..."
Dan akhirnya, gue...
Gue nggak peduli lagi tanggapan dia,
membentak,
"Emangnya dia salah apa," nyaris berteriak.
Gue marah,
masalah kecil dibuat seolah sangat parah,
hanya sms yang lupa diberi nama,
dia memaki yang belum tahu apa-apa.
Gue pernah diperlakukan sama,
jelas gue marah,
gue bertindak.
Hal yang nggak bisa dikerjakan
saya dan aku,
bisa gue lakukan.
Aku...
Setelah masalah mencair, aku berani bicara
mengungkapkan rasa.
Setelah itu, merasa lega.
Saya...
hanya manusia biasa
penuh cemas dan mudah terluka.
Tetapi sesuatu dapat mendorong saya,
keluar dari sembunyi.
Kepada aku...
Kepada gue...
Untuk mendobrak dinding pengaman,
merobek selimut ketakutan...
Agar aku dapat menghimpun keberanian.
Kemudian gue akan melakukan.
Apa yang saya harapkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
