Saya...
Saya berdiri di sudut ruangan dan memandang
sekeliling,
menatapi dinding,
mendengar suara banyak orang berdenging
di telinga
dan saya terpana
tidak bisa bicara, terdiam
dalam kecemasan ketakutan.
Lalu aku...
Aku menguatkan hati, aku maju dan bersuara,
dan bertanya, "Apa yang terjadi?"
Yang tengah sibuk bicara, berhenti,
berbalik menatapku, wajahnya dingin beku.
"Apa maumu?"
Bagaimana seharusnya jawabku?
Apa yang ada dalam pikirku,
sulit diungkap dalam kata, dan aku
masih juga terdiam membisu.
Aku pun merasa malu.
Ingin kembali ke tempat saya terpaku.
Tetapi sesuatu meluap dalam diriku,
membuka mulut, jawabku,
"Hanya ingin tahu..."
Dan akhirnya, gue...
Gue nggak peduli lagi tanggapan dia,
membentak,
"Emangnya dia salah apa," nyaris berteriak.
Gue marah,
masalah kecil dibuat seolah sangat parah,
hanya sms yang lupa diberi nama,
dia memaki yang belum tahu apa-apa.
Gue pernah diperlakukan sama,
jelas gue marah,
gue bertindak.
Hal yang nggak bisa dikerjakan
saya dan aku,
bisa gue lakukan.
Aku...
Setelah masalah mencair, aku berani bicara
mengungkapkan rasa.
Setelah itu, merasa lega.
Saya...
hanya manusia biasa
penuh cemas dan mudah terluka.
Tetapi sesuatu dapat mendorong saya,
keluar dari sembunyi.
Kepada aku...
Kepada gue...
Untuk mendobrak dinding pengaman,
merobek selimut ketakutan...
Agar aku dapat menghimpun keberanian.
Kemudian gue akan melakukan.
Apa yang saya harapkan.
Thursday, May 22, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)
