Thursday, July 21, 2011

Sia-Sia

Tidak. Tidak. Tidak.

Seribu kali aku berkata tidak pada guratan nasib yang terpatri di batu karang takdir. Aku meradang, meraung, menolak ketidakadilan kisah yang harus kujalani. Dengan jantung berdebar dan napas memburu, ku angkat palu godam menghantam batu karang itu. Tetapi batu karang itu tidak bergeming.

Aku terdiam tidak percaya.

Seribu kali aku memukulkan palu untuk meluluh lantakkan cerita roman picisan yang terpahat pada dinding batu yang membisu. Tergores pun tidak.

Senyap. Tiada kata terucap.

Lelah, gundah, aku jatuh terduduk tidak bertenaga. Usahaku sia-sia. Mimpiku hancur dan aku putus asa.

Dalam sedu sedan, aku bersimbah air mata. Mengalir dan mengalir deras melampaui batas pantai, menjilat dasar karang. Semakin lama semakin tinggi, gelombang menari mundur maju. Perlahan-lahan mengikis batu karang tempat takdirku terpatri. Tulisan itu menipis dan menipis tanpa henti. Tetapi aku tidak melihatnya. Aku terus bersimbah air mata.

Wednesday, March 24, 2010

The Picture of Dorian Gray: The Translation

This is the translation of a classical literature, "The Picture of Dorian Gray" by Oscar Wilde, in Bahasa Indonesia.
Translated Title: Lukisan Dorian Gray.


PENDAHULUAN


Seorang seniman adalah pencipta karya-karya indah. Untuk mengungkapkan suatu karya dan menyembunyikan sang seniman adalah tujuan dari seni. Seorang kritikus adalah dia yang dapat menerjemahkan kesan yang diperolehnya dari suatu karya seni dengan cara lain atau menjadi suatu karya baru.

Bentuk kritik yang paling tinggi demikian juga yang terendah adalah suatu otobiografi. Mereka yang menemukan makna yang buruk dalam hal-hal indah adalah jahat tanpa menjadi menawan. Ini adalah sebuah kesalahan.

Mereka yang menemukan makna yang indah pada karya-karya indah adalah baik budi bahasanya. Pada orang-orang ini masih ada harapan. Mereka adalah kaum terpilih yang mengartikan karya-karya indah sebagai suatu keindahan.

Buku yang bermoral atau yang amoral sebenarnya tidak ada. Yang ada hanyalah buku yang ditulis dengan baik, atau buruk . Itu saja.

Ketidaksukaan abad kesembilan belas akan realisme menyerupai kemarahan Caliban saat melihat wajahnya sendiri dalam cermin.

Ketidaksukaan abad kesembilan belas akan romantisme menyerupai kemarahan Caliban yang tak melihat wajahnya sendiri di cermin. Kehidupan moral manusia merupakan bagian dari pokok permasalahan sang seniman, tetapi moralitas seni tersebut terjadi oleh karena penggunaan sempurna dari media yang tidak sempurna. Tidak seorang pun seniman berhasrat membuktikan apapun. Bahkan hal-hal yang benar dapat dibuktikan. Tidak seorang pun seniman mempunyai simpati etis. Simpati etis pada seorang seniman adalah suatu kelakuan yang tidak terampuni. Tidak seorang pun seniman pernah bersikap mengerikan. Seorang seniman dapat mengekspresikan segala sesuatu. Pikiran dan bahasa adalah instrumen seni bagi seorang seniman. Kejahatan dan kebajikan adalah materi seni bagi seorang seniman. Dari sudut pandang bentuk kesenian, segala ragam kesenian adalah karya seorang pemusik. Dari sudut pandang perasaan, karya seorang aktor adalah ragamnya. Semua bentuk kesenian merupakan permukaan luar dan makna lambang sekaligus. Mereka yang berusaha menggali makna di bawah permukaan tersebut melakukannya dengan risiko sendiri. Mereka yang membaca makna lambang tersebut melakukannya dengan risiko sendiri. Kesenian hanya mencerminkan para pirsawannya, dan bukan kehidupan itu sendiri. Keberagaman pendapat tentang suatu karya seni memperlihatkan bahwa karya tersebut baru, kompleks, dan vital. Ketika para kritikus tidak sependapat, sang seniman seia sekata dengan dirinya sendiri. Kita dapat memaafkan seseorang yang membuat suatu hal berguna selama ia tidak mengaguminya. Satu-satunya alasan untuk membuat suatu hal yang tidak berguna adalah bahwa orang-orang mengaguminya dengan sungguh-sungguh.

Semua karya seni sebenarnya tidak berguna.

Oscar Wilde

Wednesday, February 17, 2010

The Day Mary Sings


Mary is a shy first grade student. She often lose voice when she has to speak in front of the class. Many friends make fun of Mary's difficulty, especially Billy the King of Dodge Ball. Everything is easy for Billy because he is smart and he is blib. That is what Mary's mother calls people who is clever with words and talks a lot. Mary doesn't talk. She whispers. The whispers make Mrs. Barry shakes her head and clucks her tongue.

The problem now is not about what Mrs. Barry does when Mary whispers. And also not about Billy's name-calling. It is about what many parents and other people will say if Mary whispers on stage at Christmas Festival. You see, one week before the event, all students of Mrs. Barry were assigned to perform a short musical piece. Each took a number that would put them either in the choir or to sing solo. Mary's bad luck gave her a solo number. Again, Mrs. Barry shook her head and clucked her tongue. Mary was horrified, but she was determined to do the task. She was determined to overcome her fear.

The day of the festival comes. People gather in the auditorium before the performance starts. Then the bells rings, which indicates that the opening performance will begin very shortly. The audience place their attention to the stage. Mary steps forward, feeling nervous. Her hearts beat fast and loud. The intro melody played by the pianist flows beautifully. Only a few bars left before her part, Mary braces herself. Four beats left, Mary lifts her chin. Three, two, Mary takes a deep breath. One, she opens her mouth and a pure, clear voice singing "Over the Rainbow" fills the entire hall. Billy, who is currently slurping his lemonade, stops and listens. Mrs. Barry's hand is covering her open mouth, stunned. Mary's mother just smiles and lifts her thumb at her daughter.

..............
If happy little bluebirds fly

Beyond the rainbow
Why, oh why can't I?

Wednesday, October 21, 2009

Legenda Grissalha

Pertama kali aku membaca guratan-guratan itu, tidak pernah aku menyangka bahwa di dalamnya terkandung jawaban akan misteri kebudayaan kuno Grissalha. Pada awalnya, para ilmuwan menolak keberadaan suatu dunia sebelum terbentuknya peradaban moderen. Beberapa literatur menyatakan bahwa Grissalha hanya merupakan mitologi belaka. Tanpa bukti sejarah, pernyataan itu tidak dapat dipatahkan. Hingga saat ini. Buku tua rapuh yang ada di hadapanku adalah bukti fisik pertama yang kami temukan terkubur di bawah reruntuhan Puri Glenbold. Tanganku gemetar menyentuh halaman pertama. Mataku mulai mengikuti kisah yang pernah hilang selama ribuan tahun.


Grissalha .... Apakah kau pernah mendengarnya? Nama yang hilang dan muncul kembali dalam legenda. Legenda tentang suatu dunia yang pernah ada sebelum lahirnya sekat-sekat waktu dan batas kenyataan. Suatu dunia di mana sihir menebar kuat pesonanya, tidak terhindarkan, dan akan tetap melekat di dalam jiwamu. Dunia di mana Gerbang Vicerus yang membatasi kegelapan dan cahaya masih terbuka lebar dan meniupkan kekacauan. Dan Nattika adalah satu-satunya harapan. Hutan penuh cahaya dan benteng yang tidak pernah runtuh, bahkan kala matahari berpaling dan pergi.
Sekarang, terlupakan.

Grissalha .... Apakah kau pernah mendengarnya? Nama yang sekarang kutuliskan dengan hati yang terluka. Mataku pernah memandangnya dan terus terpatri dalam ingatanku. Dunia di mana aku dilahirkan dalam cinta. Hidup dalam suka dan duka. Dan aku terus melaju, sampai pada lahirnya sekat-sekat waktu dan batas kenyataan. Lalu, datanglah kehancuran. Bagaimana dunia ini selamat? Hal itu tidak dapat kuungkapkan, karena setelah sekian lama rasa sakit itu masih ada, tidak terkatakan. Aku telah kehilangan ....

Grissalha .... Dengarkanlah sekali lagi! Nama itu akan kutanamkan, bahkan jika harus merobek tirai mimpi. Grissalha, dengan tulisan ini, aku akan menyusun kembali serpihan puing-puing kenangan. Satu demi satu akan kuceritakan, tentang cinta, tentang harapan, dan pengorbanan. Legenda yang telah tertutup batas kenyataan ini akan kupatri dalam setiap hati. Dan akan abadi ....

Namaku Charmanita Arsacci. Biarkan penaku mengalir dan tanganku menghadirkan kembali kisah ini ....

Thursday, September 10, 2009

Sayap

Pernahkah lihat burung terbang dengan satu sayap?

Dan jika sayap itu patah,
Apakah ia akan meratap?

Ataukah ia akan terbang tanpa sayap?

Jika demikian, akankah terjadi keajaiban?

Sejak awal, perlukah ia akan sang sayap?

Di saat sepasang sayap bersatu,
Ia pun pergi mengejar pelangi.

Ujung pelangi yang menyimpan misteri,
Matanya berputar mencari-cari,
Ia pun karam oleh sirnanya mimpi.

Kudengar kepakan kuat sepasang sayap,
Kudengar patahnya hati dan ratap.

Di tengah tetes air mata, ia berucap,
"Aku tidak perlu sepasang sayap."

Akhir

Jika matahari terbenam berwarna merah
Dan langit suram berwarna darah
Lalu mengering dan menghitam
Malam itu hujan air mata

Tanah, bumi pun menganga
Menjerit dalam lidah bisu
Saat sunyi berarti ribuan kata
Dibiarkan tidak terucap
Saat itu pula seluruh cerita
Tergenang dalam senyap

Tidak seorang pun tahu

Satu jiwa akan lepas, terbebas

Tidak seorang pun peduli

Satu tubuh berhenti bernapas

Dan ketika bumi sunyi ...

Segalanya ...

Pergi ...

Rindu

Bentangan anyaman putih tercabik-cabik jarum-jarum air yang menghujam bantalan empuk berlumpur.
Langit tampak gelap.
Aku tidak berani mengikuti ke mana sayap-sayap di hatiku hendak terbang dan tercenung sendiri di dalam sangkar gading.

Sepi.
Senyap.
Pusaran emosi tak terkendali, meluap.
Tetapi tidak terucap.

Bulir-bulir bening bergulir membasahi kedua bukit pipi pucatku.
Bibirku bergetar mengucap doa yang tak dapat keluar.

Sakitnya pisau kerinduan menghantam dadaku, betapa aku ingin pulang.